|
Dibesarkan di
Masyarakat pinggir Kali Code.
Lahir di salah satu
desa di Kota Wonosari, Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta. Dua Tahun kemudian, orang
tua menetap di kampung Prawirodirjan kel. Prawirodirjan Kec. Gondomanan
Yogyakarta. Persisnya tinggal di sebuah rumah yang terletak tepat di pinggir
Kali Code, kali yang membelah kota dan terletak di tengah-tengah Kota.
Sebuah kampung yang
telah membesarkan dan memberi banyak pengetahuan tentang hidup dan kehidupan
yang cukup rumit. Sebab, di sanalah dinamika masyarakat paling bawah menjalani
pergulatan hidup mereka. Di tengah-tengah pergulatan hidup mereka, telah memberi
banyak pengetahuan tentang berbagai hal yang menyangkut mereka. Minuman keras,
PSK, kemiskinan, kriminalitas, premanisme dan banyak hal lain, seakan menjadi
pengetahuan yang tak terkira pentingnya.
Beruntunglah saya,
seakan mendapat perlindungan dan dorongan dari mereka, sehingga sayapun dapat
melenggang sekolah dan kuliah di sekolah dan perguruan tinggi yang cukup bonafid
di kota ini. Sayapun bersyukur, karena dapat mengenali mereka namun tidak
terjerumus dalam kehidupan mereka. Entahlah…, seakan mereka tahu, dan tak
menginginkan diri saya menjadi mereka, bahkan mendorong saya untuk berbeda
dengan mereka. Saya sangat bersyukur dan bersyukur, seakan mereka melindungi
masa depan saya untuk tak terjebak dalam kehidupan mereka. Saya masih ingat
mereka semua, serta rasanya saya berhutang budi pada mereka. Entahlah…, akankah
aku bisa membalas budi mereka…?
Menjadi Aktifis Masjid.
Sudah sejak SMA saya
sebenarnya telah dilirik oleh ustad kampung untuk dikader menjadi remaja masjid.
Namun baru setelah kuliah, saya mulai tertarik untuk ikut serta bersama mereka.
Semenjak itulah saya mulai banyak belajar tentang ajaran agama. Namun, ada
beberapa catatan penting dalam perjalanan waktu dalam kurun ini. Pertama, saya
belajar banyak tentang prilaku-prilaku atas pemahaman agama mereka, baik yang
radikal, moderat, sampai yang abangan atau mereka yang hanya sekedar ikut-ikutan.
Pengalaman atau pengamatan itu, menjadikan saya tahu dari mana dan awal mula
pemahaman pelaku teror itu terbangun dan terbentuk. Lebih lanjut tentang masalah
ini bisa KLIK >>>
Mengenal Pelaku Terorisme ! dan
Bali Kawasan Anti Teroris !
Menyufi.
Tanpa disadari saya
banyak belajar tentang ilmu-ilmu tasyawuf atau filsafat agama. Pengalaman inilah
yang telah menjadikan perubahan besar dalam hidup saya. Di sinilah mulai banyak
mengenal tentang hidup dan kehidupan yang ternyata sangat rumit dan pelik. Hal
tersebut membuat saya larut dalam ritual agama yang cukup dalam. Keadaan ini
membuat orang menilai saya penganut islam yang cukup militan. Semua bisa kami
pahami tentang penilaian orang terhadap saya. Memang saya agak berbeda dalam
mengatualisasikan keber-Agamaan saya.
Saya memang menikmati
betul ritual-ritual Islam yang kami lakukan. Keadaan inilah yang membuat kuliah
menjadi terbengkelai, hingga saya sempat cuti, sampai akhirnya harus
menyelesaikan studi selama 10 tahun. Sungguh cukup lama untuk menyelesaikan
kuliah waktu itu. Tapi itulah kenyataan perjalanan hidup yang harus kami terima
apa adanya.
Dalam perjalanan waktu
yang cukup panjang, tema-tema mengasihi, mengalah, suka menolong orang, dan
masih banyak moralitas hidup yang sepertinya menjadi sebuah sikap dalam hidup
saya, di mana sikap itu seakan jauh dari keserakahan, kemunafikan dan segala
bentuk sikap-sikap tercela lainnya. Prilaku-prilaku tersebut, menjadikan
teman-teman dekat menganggap saya telah menjadi golongan ‘ Sufi ‘. Saya tidak
tahu dan tak mau menilai diri begitu, tapi itu terserah mereka, yang penting aku
hanya ingin menjalani hidup apa adanya.
Yang terpenting dalam
perjalanan ini, dalam taraf tertentu saya merasa bisa membaca pikiran orang
melalui lawan bicara saya. Hanya dengan melihat guratan wajah, sikap, gaya
bicara, ucapan dan kata-kata lawan bicara, saya bisa mengetahui kejiwaannya.
Tidak hanya mengetahui kejiwaannya saja, namun saya bisa meraba ( meramal )
persoalan-persoalan hidup dan kendala-kendala yang akan dihadapi oleh orang
tersebut dalam menjalani hidupnya, baik persoalan keluarga yang akan terjadi,
hubungannya dengan lingkungan, kariernya, dan banyak hal yang menyangkut
perjalanan hidupnya ke depan.
Inilah fase penting dalam hidup saya, yang kami salurkan sesuai minat dan bakat
yang ada pada diri saya.
Tidak hanya itu saja,
dalam pengalaman berorganisasi, saya mampu menjadi motivator, peredam konflik –
baik yang akan dan sudah terjadi. Konflik yang akan terjadi sudah bisa kami
pantau, setelah saya mengenal karakter dan kejiwaan orang-orang yang ada di
dalamnya. Saya bisa mengetahui sebelumnya, mengenai karakter-karakter orang yang
berpotensi memicu konflik dan bisa menjadi masalah. Biasanya saya selalu
mendoktrin lebih awal kepada orang-orang tersebut tanpa dia sadari, supaya tidak
menjadi persoalan di kemudian hari. Sehingga persoalan-persoalan yang akan
menjadi penghambat dan masalah dalam komunitas tersebut, tidak muncul atau
paling tidak, bisa dikendalikan. Selanjutnya komunitas tersebut tinggal di beri
motivasi untuk berkembang dan produktif. Kami bersyukur, di sadari oleh mereka
atau tidak, kami selalu berhasil memberi warna, semangat dan berbagai
keberhasilan dalam komunitas yang pernah saya ikuti. Bahkan mencetak orang-orang
yang cukup mempunyai keberhasilan dalam hidup mereka.
Dalam kaitan ini,
tentang kemampuan saya secara umum bisa dilihat dalam ulasan-ulasan konsultatif
para netter yang sedang mempunyai masalah. Tentang bagaimana saya memberi solusi,
memotivasi dan mencerahkan persoalan mereka. Juga menyangkut semua pandangan dan
sikap saya dalam banyak hal. Semua itu bisa di lihat KLIK >>>
http://www.duhgusti.com
Saya adalah Bagian dari
Solusi ! Bukan Bagian dari Masalah !
Kalau di lihat dari
tulisan saya, baik sebagian kecil di situs duhgusti.com atau sering
ikut muncul di interakrif cukup aktif ( sering tidak aktif juga ) di RRI
Pro-3 (Nasional 102,9 fm di Jogja ) dan kurang aktif di RRI Pro-2 (
Lokal 102,5 fm di Jogja ), saya pasti dianggap pendengar orang yang keras dan
cenderung ekstrim atau radikal, dalam berpendapat. Saya yakin, banyak orang
pasti menilai saya orang yang tak bisa kompromi, keras, dan srampangan. Sehingga,
saya yakin, pejabat-pejabat pemerintah yang pernah interaktif dengan saya, akan
punya kesan terhadap diri saya sebagai orang yang menakutkan dan ekstrim.
Maksudnya, di mata mereka, saya tak bisa di ajak kompromi dan hanya akan jadi
persoalan saja, seandainya pendapat-pendapat itu diterapkan dalam sistem
bermasyarakat dan berbangsa sekarang. Saya juga pasti akan di anggap orang
terlalu idialis dan autopis, pendapat yang tak mungkin bisa diterapkan dalam
sistem bernegara saat ini.
Namun semua itu salah
besar ! Semua orang tidak tahu bahwa saya ( merasa saja gitu ! ) mempunyai
pengetahuan tentang kejiwaan, sehingga saya memang sengaja menari-nari memainkan
kejiwaan mereka, yang mungkin semua orang sudah tahu tentang bagaimanakah
sebenarnya mental-mental para pejabat pemerintah sampai saat ini. Sebenarnya
yang terjadi pendapat saya itu bukanlah target, namun hanya ingin menyentuh
sebuah kesadaran akan persoalan yang perlu disadari dan diketahui. Saya punya
keyakinan, paling tidak, mereka ( juga para pendengar radio ) menjadi tahu ada
persoalan yang harus mereka perhatikan dan selesaikan. Itu saja ! Tidak ada yang
lain. Mengenai mereka berubah atau tidak, itu bukan persoalan. Akan tetapi,
selama pantauan saya dengan target interaktif yang saya lakukan, ada banyak
perubahan yang terjadi, baik pandangan dan sikap para pendengar ataupun
perubahan-perubahan sosio-politik pada bangsa ini. Bukannya mengklaim diri
sayalah yang berhasil mengambil peran dalam perubahan pandangan dan sikap semua
pihak, tapi paling tidak, yang saya inginkan banyak yang sudah sesuai harapan
saya.
Sebenarnya kalau mereka
ingin tahu, saya sebenarnya sangat berbeda dalam mengambil peran antara dunia
interaktif ( baik di media radio atau televisi ) dan ketika saya dalam
sistem ( komunitas, institusi, ataupun organisasi ). Maka menjadi sangat
wajar kalau teman-teman saya di organisasi maupun di komunitas pendengar radio,
menjadi sering terkejut, salah menilai, dan tak habis mengerti akan perbedaan
mencolok prilaku saya ketika di dalam sistem ( komunitas, organisasi, intansi
ataupun ketika bermasyarakat ) dengan ketika berinteraktif. Seakan mereka
menilai saya sangat kontras dalam dua dunia tersebut.
Memang dalam sistem,
saya cenderung santai, santun, rendah hati, mengalah, bahkan tak jarang sering
celengekan mengeluarkan job-job segar ( ini tak lepas peran saya untuk membangun
sistem yang harus kondusif , sebagaimana peran saya dalam berorganisasi,
sebagaimana tulisan saya di atas). Jadi kalau mereka ingin tahu, diri saya
memang akan berbeda peran dalam dua hal tersebut.
Oleh karena itu, kalau
di cermati, maka sebuah kesalahan besar kalau ada orang menilai saya adalah
bagian dari masalah. Sebagaimana saya lakukan dalam berorganisasi. Saya
adalah Bagian dari solusi, mampu meningkatkan produktifitas dan motivasi bagi
institusi ataupun komunitas di mana saya akan ada dan sudah ada. Saya adalah
potensi untuk meningkatkan kinerja dan kesuksesan sebuah institusi , komunitas,
organisasi ataupun semua perkumpulan apapun.
Terkesan
Clengekan !
Sering ' clengekan
' , yah... begitulah ! Cukup beralasan memang, coba bayangkan ! jika kita seakan
merasa tahu dengan apa yang mesti terjadi di kemudian hari, baik diri saya
sendiri maupun orang di sekitar saya, di manapun juga. Kita mesti tidak mudah
menjelaskan dengan mudah dengan semuanya. Alih-alih malah di anggap sok tahu !
Maksudnya ingin berniat baik malah kena damprat. Yah.. mendengingan dibuat slow
aja dan banyak canda. Toh mereka yang punya hidup. Dan merekalah yang harus
menanggung semua persoalan hidupnya, Bukan gue... ! Ngapain susah-susah
ngejelasin orang tentang sesuatu yang harus mereka ketahui. Daripada salah paham
mendingan biarin aja ! Dan di buat santai serta ' clengekan ' aja.
Karena sering santai
dan banyak clengekan, saya sering dan malah langganan diremehkan teman atau
orang lain, bahkan pembantu dan pegawai orang tua saya sendiri. Tentu saja,
mereka yang tak tahu diri saya yang sebenarnya. Kalau yang dah tahu, ee... malah
sangat berhati-hati jika ngomong sama saya ( biasanya mereka malah orang yang cukup
dihormati dan disegani di kalangan teman-temannya atau kolega-koleganya. Aneh Ya
! ). Tapi itulah hidup saya ! Enjoi aja Choie ! he... he... he... !
Tapi kalau kitanya nggak kenal, ya kayaknya orang pendiam .... gitu ? Makanya kalau mau kenalan, kenalan aja, Kitanya terbuka pada siapapun juga. Ngak mau tahu dari latar belakang apapun atau dari manapun, nggak peduli ... !
Salam buat semuanya !
|