|
Ketua DPRD SUMUT Meninggal, Salah Siapa ? (Refleksi Kritis) |
|
|
|
|
Ditulis oleh MasIdan
|
|
Jumat, 06 Pebruari 2009 |
Ketua DPRD SUMUT Meninggal, Salah Siapa ?
Kematian Ketua DPRD SUMUT memang cukup mengundang perhatian
banyak pihak. Ya..., meninggal di tengah menghadapi unjuk rasa yang
anarkis. Berita pun menjadi heboh ! Semua bisa dimaklumi, mengingat
almarhum adalah ketua dewan Propinsi SUMUT.
Kemudian...,
Sebagaimana kultur masyarakat indonesia yang sering dipakai, jika
terjadi peristiwa yang mengundang perhatian, apalagi ada korban
tertentu, maka mengkambing hitamkan yang lainnya seakan menjadi lagu
lama yang terus dituduhkan dan di cari-cari.
Ada yang bilang Polrinya yang tidak bertindak cepat ?
Kapolda & Kapolresnya yang harus dicopot ?
Ada yang bilang karena ada media lokal yang mempropaganda kasus tersebut.
Wah pokoknya macam-macam kambing hitamnya.
Akhirnya, semua menjadi melupakan beberapa hal yang seharusnya malah perlu diangkat dibalik hikmah tragedi tersebut
Di antaranya :
1. Saya heran, mengingat beratnya menjadi anggota dewan, apalagi
menjadi ketua dewan, punya penyakit jantung kronis saja masih
dipertahankan ?
Di telaah dari segi apapun, sudah nampak ada sistem yang seakan memang
membiarkan sesuatu yang sangat rentan terjadi ( termasuk tragedi
meninggalnya Ketua Dewan di SUMUT ). Belum di tinjau dari sisi
mobilitas ataupun kesiapan fisiknya, tentu saja sudah tidak layak untuk
tugas seberat itu ( aggota DPR atu DPRD ).
2. DPR dan kepentingan masyarakat tidak bisa dipisahkan. Dan sudah menjadi tanggung jawab DPR/D jika ada persoalan dengan kepentingan masyarakat itu sendiri.
Kemudian, seharusnya DPR/D juga harus bisa memprediksi atau menganalisa
segala kemungkinan yang akan terjadi atas segala kebijakan politik
maupun publik.
Justru malah menjadi tanggung jawab mereka untuk berusaha menjadikan persoalan publik supaya tidak menjadi kacau atau anarkis.
Demikian sehingga, mereka seharusnya melakukan komunikasi-komunikasi
politik kepada masyarakatnya untuk bisa menemukan solusi ataupun
rekayasa politik yang terbaik ( tentu saja rekayasa positif ). Bukan
malah mendiamkan atau tak mau tahu segala kemungkinan yang akan terjadi.
Untuk itu, peristiwa unjukrasa yang cenderung anarkis, tak lepas
dari lemahnya tanggung jawab Dewan untuk bisa meminimalisir persoalan
tersebut agar tidak menjadi anarkis atau kacau. Bukankah itu sudah
menjadi bagian dari tanggung jawab mereka.
Oleh karena itu, kalau terjadi anarkisme di dalam masyarakat, mereka
tak bisa lepas tangan dengan persoalan itu. Sebab bisa jadi semua
akibat macetnya komunikasi politik dan juga lemahnya kinerja mereka
sendiri.
3. Karena tugas dewan yang tidak ringan, maka sudah menjadi
kesiapan mereka untuk memikul tugas berat menjadi anggota DPR/D. Tentu
saja dengan segala resiko yang tidak ringan pula. Termasuk di dalamnya
resiko di penjara atau menjadi korban proses politik, harus siap
dipikul dan diterimanya.
Untuk itu, contoh peristiwa DPRD SUMUT adalah sebagian resiko sebagai
anggota dewan. Sebab kalau tidak mau resiko, sebaiknya tidak usah
menjadi anggota dewan. Jadi jangan cuma mau enaknya saja.
Sehingga, bisa jadi lemah kinerja, justru akan menjadi resiko
sendiri atas kegagalan proses politik di tempat mereka berada. Kemudian
keadaan itu bisa saja membawa korban, kalau tidak masyarakatnya sendiri
atau malah mereka sendiri. Korban, akibat kegagalan komunikasi atau
proses politik yang seharusnya mereka bangun.
Bagaimana... mau cari kambing siapa ? hehehe.....
4. Mati..., bisa banyak sebab. Tapi kalau ajal sudah
menanti, kapanpun dan dengan sebab apapun pasti akan terjadi. Penyebab
hanyalah sebatas persoalan cara dan hikmah belaka. Ketika sesorang
telah menjelang takdir.
Mati atau meninggal..., tak akan pernah bisa dihidupkan lagi.
Dan hikmah ( sebab akibat atau persoalan hukum yang memungkinkan
ditindak lanjuti, kalau tidak ada ya sudah, selesai di situ saja ! )
akan selalu bisa menjadi pelajaran semua pihak.
Semoga Anggota DPRD, Partai atau Siapapun juga..., untuk tidak mudah
mencari "kambing warna hitam" milik warganya sendiri.... !!! Sebelum
mampu bisa melihat diri sendiri...
Siapa tahu... ternyata malah kita sendiri Kambingnya... ! wakakak.... !
Mudah-mudahan ada manfaatnya.
By Masidan.
|
|
Terakhir kali diperbaharui ( Jumat, 06 Pebruari 2009 )
|